#newnavbar ul li{ list-style-type: none; display:inline; margin:0px; padding:30px; border:0px solid; }

Rabu, 02 November 2011

KEAJAIBAN AL-QALB (HATI)


Oleh
Anwar Saepul

Dalam diri manusia terbangun atas dua unsur yaitu unsur jasmaniah dan unsur rohaniah dimana dua unsur ini saling berkaitan, jasmaniah perlu dirawat dan dijaga agar sehat dengan melakukan olahraga, makan makanan yang sehat serta bergizi begitu juga dengan ruhaniah perlu dan bahkan sangat penting dijaga agar sehat dan tidak berpenyakit batiniahg atau penyakit hati, dijaga dengan dzikrullah, ibadah, dan hal hal yang membuat hati kita menjadi tenang, karena hati adalah pusat semua jasadiah dan ruhaniah kita.

Menurut Imam AlGhazali  kemuliaan martabat manusia disebabkan karena kesepiannya mencapai ma’rifat kepda Allah, dan hal itu dimungkinakan karena adanya hati. Dengan hati, manusia mengetahui CINTA, dan dengan hati pula lah manusia mengetahui Allah dan mendekatinya, sedangkan anggota badan yang lain berfungsi sebagai pengaglikasian dari hati itu sendiri.

Hati dalam bahasa arab disebut QALBU yang artinya “bolak balik” . hati manusia juga berarti bolak balik kadang tenang, susah, gembira, was-was dan risau sehingga Rasul pun dalam do’a nya pun mengisyaratkan :

ياَمُقَلِّبَ الْقُلُوبْ ثَبِّتْ قَلْبِ عَلىَ دِيْنِكَ وَعَلىَ طَاعَطِكَ

Artinya:

“Hai yang membolak-balikan hati, tetapkan lah hati ku dalam agamaMu dan dalam taat padaMu”

Oleh karena sifat hati itu bolak-balik maka ada masanya manusia itu senang, sedih, gundah, ataupun tenang. Hati yang tenang harus dan bisa menyingkirkan nafsu amarah, waswas dan kerisauan. Ia membutuhkan penyucian diri, kedewasaan dan pengisian dengan dzikrullah dan perbuatan-perbuatan amal saleh lainnya. Sebaliknya apabila hati yang tenang tak mampu menyingkirkan nafsu amarah, was-was, dan kerisauan dalam hati maka akah menimbulkan penykit hati baik itu hasud, dengki atau penyakit lainnya, sedangkan jika hati sudah sakit (berpenyakit) tidak hanya ruhaniyah saja yang sakit bahkan jasmaniyah (badan) pun ikut merasakan sakit, itu dikarenakan adanya hati yang sakit, terluka atau berpenyakit sebab hati sebagai pemimpin jasad dan ruhaniyah :

وَقاَلَ النَّبِيً صلعم : اِنَّ فِى الـْجَسَدِ مُضْغَةً اِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ بِهاَ ساَ ءِرِ الْجَسَدِ وَاِذَ فَسَدَتْ فَسَدَتْ ساَءِرِ الْجَسَدِ اَلاَ وَهِيَ الْقُلًبْ

Artinya :
“Sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, dimana jika segumpal daging tersebut bagus (sehat) maka bagus (sehat) lah seluruh jasadnya dan apabila segumpal daging itu rusak (sakit) maka seluruh jasadnya, ingat segumpal daging itu adalah hati”

Jagalah hati kita, karena keimanan kita bersumber dari hati kita yang diucapkan melalui lisan dan diamalkan oleh anggota badan, banyak-banyaklah berdzikir pada Allah karena itulah sumber ketenangan hati “Ala Bidzikrillahi tatmainul qulub” ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Dalam diri manusia terdiri dari dua potensi yaitu potensi fujur dan potensi taqwa yang selalu mengajarkan kita dan mengajak kita kepada kebaikan QS. ASyam.
Keimanan adalah cahaya hati karena itu Imam Syafi’I memaparkan sifat hati.
Beliau berkata “cahaya hati (keimanan) itu pluktuatif, kadang bertambah dan kadang berkurang”  (yazidu wayankusyu).

Untuk mengantisifasi itu semua maka ketika iman kita sedang berada dibawah atau sedang berkurang maka  maka perbanyaklah dzikir pada Allah, sering berkumpul dengan orang soleh, dan dakwahilah diri kita (dakwah nafsiah) supaya senantiasa terjaga iman kita.

Wallahu a’lam bisawab

2 komentar: