#newnavbar ul li{ list-style-type: none; display:inline; margin:0px; padding:30px; border:0px solid; }

Selasa, 13 Maret 2012

REFLEKSI PENCIL DAN PENGHAPUS




 Pensil : Maafkan aku.

 Penghapus : Maafkan utk apa? Kamu tdk melakukan kesalahan apa2.

 Pensil: Aku minta maaf krn telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu ada utk menghapusnya. Namun setiap kali kamu menghapus kesalahanku, kamu kehilangan sebagian dr dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil setiap saat.

 Penghapus : Hal itu benar. Namun aku sama sekali tdk merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta utk melakukan hal itu, utk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari nanti, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan menggantikan diriku dgn yg baru. Aku sungguh bahagia dgn perananku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tdk suka melihat dirimu bersedih.

 Kisah percakapan antara pensil dan penghapus sungguh inspiratif.

 Orang tua kita layaknya penghapus sedangkan kita layaknya pensil. Mereka (Orang tua) selalu ada utk anak2 mereka, memperbaiki kesalahan anak-anaknya.

 Terkadang, seiring berjalannya waktu...

 Mereka akan terluka dan akan menjadi semakin kecil

 (Dalam hal ini, maksudnya bertambah tua dan akhirnya wafat).

 Walaupun anak2 mereka akhirnya akan menemukan seseorang yg baru (suami atau istri), namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.

 "Hingga saat ini, saya masih selalu menjadi si pensil.. Dan sangat menyakitkan bagi diri saya untuk melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah "kecil" dan "kecil" seiring berjalannya waktu. Dan saya tahu bahwa kelak suatu hari, yang tertinggal hanyalah "serutan" si penghapus dan segala kenangan yg pernah saya lalui dan miliki bersama mereka..."

 Renungkanlah dan sadarilah:

 PARENTS ARE PRECIOUS!!

 Bahagiakanlah orang tua kita selagi masih ada waktu!

 Semoga bermanfaat

 Repost from Sekolah Danapena Yayasan Danapena

Kamis, 08 Maret 2012

ego orang-orang soleh


oleh:
Saepul Anwar

Segala puji hanya milik Allah yang mengajarkan manusia melalui pelantara kalam, yang mengajarkan manusia untuk selalu senantiasa membaca, baik membaca secara membaca, maupun membaca gejala-gejala kejadian yang ada dimuka bumi baik dalam ilmu agama maupun ilmu agama yang dikombinasikan dengan ilmu-ilmu yang lain untuk lebih meyakinkan kepada diri kita bahwa ilmu yang ada didunia ini semuanya bersumber dari Allah swt.

Sholawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada bagida alam habibana Muhammad saw, yang senantiasa memberikan kita pencerahan melalui semangat juang untuk menegakkan islam di bumi Allah ini.

Ketika dalam perkuliahan tentang pengantar psikologi (semester kamari, sakieu-kieu na nu nerap hehe), ada pembahasan yang menurut saya menarik, yaitu dalam pembahasan psikoanalisa yang dipaparkan oleh sigmun freud yang mana didalamnya terdapat salah satu teori id, ego dan superego.

Dalam pertemuan itu yang saya tangkap bahwa pengertian dari:

v  Id adalah dorongan, hasrat, ambisi yang meledak-ledak berada dialam bawah sadar

v  Ego adalah pemuculan keluar dari id yang berada dialam alam sadar

v  Sedangkan super ego adalah timbangan moral atau yang membatasi ego tersebut

 

Saya ibaratkan atau saya analogi kan bahwa id itu adalah dorongan nafsu hayawan yang berada dalam diri manusia sedangkan ego adalah pemunculannya dan super ego adalah taqwa (secara bahasa: takut, sedangkan secara istilah syara' yaitu melaksanakan perintah Allah serta menjauhi larangannya, baik ketika banyak orang ataupun sedang sendiri)

Pada dasarnya pada setiap diri manusia ada dorongan nafsu (id) atau dorongan untuk melakukan kejelekan untuk dimuculkan keluar, sama halnya dengan orang yang soleh bukannya mereka tidak mempunyai ego (nafsu) atau tidak memiliki keinginan untuk maksiat,  ada kok sama dengan kita akan tetapi  nafsu (id) terhadap kejelekan/kemaksiaatannya dikalahkan oleh super ego mereka yaitu rasa taqwa, merasa takut kepada Allah sehingga nafsu (id) tersebut tidak muncul/Nampak keluar.(QS.35:8).

demikian pula orang yang ma'siyat bukan tidak ada iman atau rasa taqwa pada Allah (superego), sama ada juga, hanya saja imannya (superego)-nya itu  dikalahkan oleh nafsu durjananya (id) yang dimunculkan (ego) sehingga tidak bisa menjadi pembatas dari nafsu (id)-nya tersebut. (QS12:53)

* !$tBur äÌht/é& ûÓŤøÿtR 4 ¨bÎ) }§øÿ¨Z9$# 8ou$¨BV{ Ïäþq¡9$$Î/ žwÎ) $tB zOÏmu þÎn1u 4 ¨bÎ) În1u Öqàÿxî ×LìÏm§ ÇÎÌÈ  

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

 

Orang yang sholeh dan taat bukan berarti orang yg tidak ada keinginan ma'siyat, ada kok!, hanya saja nafsu ma'siyatnya dikalahkan oleh rasa TAKUTnya kpd ALLAH(QS35:28),

Ada ungkapan menarik dari seorang sufi yang berbunyi: zayyinu anfusakum bi al-ma’shiyyah, wala tuzayyinu anfusakum bi al-maghfirah (hiasilah dirimu dengan merasa banyak dosa/maksiat, dan janganlah menghiasi dirimu dengan merasa banyak ampunan). Ungkapan sufi ini begitu bijaknya, karena merasa dirinya saleh adalah penyakit batin yang luar biasa. Imam al-Ghazali menyebutnya sebagai penyakit ‘ujub yang dikategorikan sebagai sifat yang merusakkan amal baik (al-aushaf al-muhlikat). Sedangkan perasaan diri banyak dosa/maksiat, merupakan sifat tawadhu’ yang sangat dianjurkan oleh Islam.

orang soleh orang yang mampu mengendalikan ID dengan Super Ego nya :)


catatan:
jangan pernah menghakimi seseorang, karena setiap manusia di ilhami dua ilham, yaitu ilham fujur dan ilham taqwa, jadi mungkin saja sekarang mereka cenderung mengikuti ilham fujur, tapi siapa tahu esok hari mereka   mengikuti ilham taqwanya,

**Mohon maaf apabila ada kesalahan