#newnavbar ul li{ list-style-type: none; display:inline; margin:0px; padding:30px; border:0px solid; }

Minggu, 27 November 2011

Untuk Kita Renungkan


Sudah menjadi keyakinan dalam kehidupan kita, bahwa setiap yang ada permulaannya tentu pasti ada penghabisannya. Setiap yang punya awal mesti ada akhir, tidak ada keabdian dalam hidup ini, justru hayalah ketidak abadian yang abadi (tak ada yang abadi saur Peterpan mah). Semuanya datang dan pergi silih berganti berubah oleh pergeseran masa  dan pertukaran waktu
Demikianlah kalau kita mau merenungi kehidupan alam yang ada disekitar kita, sejak dari kehidupan, tumbuh-tumbuhan, Binatang sampai kehidupan kita makhluk yang namanya manusia anu bedegong na kacida
Lihatlah kehidupan kita manusia misalnya,
Dimulai sejak kita terlahir ke alam ini keluar dari Rahim ibu, menjadi bayi merah yang tak berdaya, lalu menjadi balita, setelah itu maka kita menjadi anak2, lalu menjadi dewasa, lalu tua lah kita...
Maka ketika kita sudah menjadi tua, masuk lah kita ke hari tua,,,
maka sehari, seminggu, sebulan setahun dua tahun, maka sampailah kita kepada waktu yang ditentukan yaitu kematian
Kalau kita mau merenungi peruahan-perubahan yang ada dalam diri kita, seharusnya membuat kita insaf dan sadar
Jika di waktu muda kita begitu lincah, punya rambut hitam ikal bergerai, punya lesung dipipi, punya senyum yang indah menawan semua orang yang melihat kita, kulit putih kencang dan bersih 
Tp manakala kita memasuki hari tua maka peruahan prontal pun terjadi, kulit putih kencang dan bersih berubah menjadi kusut dan lusu, rambut yang hitam ikal bergerai berubah menjadi putih dan gimbal, kenikmatan berkurang, gigi putih yang dulu menjadi senjata kita untuk melahap makanan satu persatu di ekstaradisi oleh lamanya waktu,  bahkan dikala muda senyum kita indah menawan semua orang yang melihat maka di hari tua, tatkala kita senym bisa jadi dengan gigi yang sudah tidak ada dan kulit keriput maka membuat lari orang yang melihat kita tersenyum 
Kemana keindahan yang tadinya begitu menawan??
Kemana senyum lesung pipit yang memmikat orang??
Pergi meninggalkan kita berubah oleh perubahan masa dan pertukaran waktu??

Nah bila maut menghampiri kita maka apa selesaikah kehidupan kita????
OWH TIDAK BISA mati itu bukan akhir dari segalanya bahkan mati itu adalah sebuah babak baru, episode baru dalam sejarah kehidupan kita. inilah bedanya manusia dengan hewan, jika hewan ketika hidup lalu mati maka bilatungan, tapi kalao manusia dari hidup menjadi mati maka perhitungan
Jika kehidupan adalah perpindahan dari alam rahim menuju alam dunia  melalui perut ibu kita, maka kematian adalah perpindahan alam dunia menuju alam akhirat melalui kematian, akan tetapi sebelum kita ke akhirat maka kita akan megalami yang namanya alam barzah (kubur), yaitu; suatu babak baru dan awal penderitaan bagi orang-orang yang tidak beriman. tapi menjadi sebuah kenikmatan dari taman-taman surga buat orang-orang yang soleh dan berbakti kepada Allah
Sehingga Rasul pun Bersabda :

ماَالْمَيِتْ فِى قَبْرِهِ كَلْغَرِقِ الْمُتَغَوِّسْ

“ tidak lah mayyit didalam kubur nya kecuali seperti orang yang tenggelam yang meminta tolong (yakni meminta pertolongan)

Apa yang bisa memberikan pertolongan???? Yaitu do’a dari anak2 saleh dan amal saleh
Sehingga Abu bakar assidiq RA berkata;

MANDAKHOLAL KOBRO BILA JADING (MINAL AMALIS SOLIHI) FAKA ANAMA ROKIBAL BAHRO BILA SAFINATIN (FAYAGRIQU GORQON LAKHOLASO LAU ILLA BIMAN YUNGKIDUHU)
Barang siapa yang masuk ke dalam kubur (mati lalu dikubur) dengan tidak membawa bekal (amal soleh)
Maka maka seperti menyerang lautan tanpa memakai perahu (akan tenggelam dan tidak akan selamat kecuali ada orang yang menyelamatkan)
 Mari sahabat do’akan kelluarga kita, saudara kita, atau bahkan kedua orang tua kita yang sudah tiada semoga senantiasa di limpahkan rahmat Allah kepada mereka, ditambah kenikmatan dialam kuburnya dan buat orang tua kita yang masih ada mudah-mudahan mereka terus senantiasa ada dalam lindungan Allah swt dan senantiasa ada dalam ampunan Allah swt.
Coba bayangkan mereka mengurangi makan, mengurangi tidur bahkan tidak sedikit mengurangi kenikmatan-kenikmatan untuk membela dan agar supaya melihat anaknya menjadi orang yang sukses dan berguna.
semoga bermanfaat walaupun hanya sedikit,
Wallahua a’lam bishawab 
NB: hapunten biilih aya lepat ngamaknaan atau ngabarisan :) (belajar ngablog n' bwt artikel)

Selasa, 15 November 2011

BELAJAR DARI MASALAH


Ada masalah?
BAHAGIALAH

Allah Berfirman:

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
(Qs. Albaqarah: 286)

Kreatifitas adalah berfikir dengan cara yang berbeda dan inovasi adalah melakukan dengan cara yang berbeda.
Agar bahagia pandanglah masalah secara positif. Seperti Abdullah bin Abbas. Ia buta, sering tertimpa masalah, tetap saja melihatnya dengan senang dan bahagia.
Urwah bin zubair ketika hendak di amputasi salah satu kakinya ia menolak diberi obat penghilang rasa sakit (bius). Dia tetap bersyukur masih ada satu kaki yang utuh.  Subhanallah sudah sejauh itu kah kesabaran kita??
Ada masalah? Berbahagialah. Artinya engkau sedang hidup, tumbuh dan berkembang. Seperti pohon semakin menjulang maka semakin besar tiupan angin yang datang menggoyang, memaksa untuk tumbang. Justru bila engkau tak lagi punya masalah, hati-hatilah. Bisa jadi Allah tidak lagi mempercayaimu untuk memecahkan masalah.
Jangan bersenang-senang diatas penderitaan orang lain tapi lihatlah masalah untuk meningkatkan rasa syukur, saya sedang menjalani ujian untuk naik tingkat, saya sedang berkembang. Coba jawab, mau tidak tiba-tiba kamu diberi ijazah s1 tanpa sekolah, tanpa kuliah, tanpa ujian, tanpa skripsi, tahu-tahu diberi ijazah?
“apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan, “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-Ankabut: 2)

Berbahagialah masalah justru mendewasakan kita, mematangkan jiwa kita, peluang untuk menang, penempa untuk lebih berkarakter kuat.
·         Kalau kamu punya bos yang buruk, itu ujian agar saat jadi atasan harus lebih baik darinya,
·         jika ada dosen yang killer nya setentah mati, itu ujian agar saat jadi seorang dosen kamu bisa lebih mengerti darinya,
·         jika kamu punya sahabat yang pelit dan itungannya stengah mati, itu ujian agar ketika kamu punya sahabat kamu lebih mengerti kekuarangan sahabatmu
·         jika kamu punya masalah dengan keuangan kuliah, itu ujian agar ketika kamu mempunyai uang yang berlebih kamu bisa menghemat   

(the way to win)

kalau usaha terpuruk, bercerminlah barangkali cara usaha kita masih buruk.
Kalau punya pasangan gak setia, mungkin kita lah yang mengawalinya berlaku nggak setia,
Jika kamu merasa disakiti oleh seseorang , mungkin kita lah yang mengawali menyakitinya….!!! Ayo sama-sama sadar dalam setiap hubungan, setiap kehidupan, persahabatan pasti ada yang namanya masalah, tergantung bagaimana kita menyikapinya apakah kita jadikan sebagai pelajaran dan ujian untuk naik kelas apa kita jadikan sebagai beban hidup,,,!!!! SEMUA ADA DITANGAN ANDA

Cayoooo kawan bangkit… bangkit…. Bangkit….!!!!!
Masalah sebagai seleksi, hidup adalah ujian, seleksi kehidupan untuk memilih hamba pilihan.

Mudah-mudahan dapat memetik pelajaran dari tulisan ini…!!!
Wallahualla bishawab

Jumat, 11 November 2011

TAQWA (refrensi bwt tugas esensi al-Qur'an)

Bismillahirahmairahim,,,!!!
assalamualikum, semoga bacaan nya menambah refrensi kawan-kawan,,,,!!!!








Taqwa / takwa ,yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja. Adapun arti lain dari taqwa adalah:
  1. Melaksanakan segala perintah Allah  
  2. Menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allah (haram) 
  3. Ridho (menerima dan ikhlas) dengan hukum-hukum dan ketentuan Allah
Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. "memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai tuntunan/petunjuk allah" Adapun dari asal bahasa arab quraish taqwa lebih dekat dengan kata waqa Waqa bermakna melindungi sesuatu, memelihara dan melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan. Itulah maka, ketika seekor kuda melakukan langkahnya dengan sangat hati-hati, baik karena tidak adanya tapal kuda, atau karena adanya luka-luka atau adanya rasa sakit atau tanahnya yang sangat kasar, orang-orang Arab biasa mengatakan Waqal Farso Minul Hafa (Taj).
Dari kata waqa ini taqwa bisa di artikan berusaha memelihara dari ketentuan allah dan melindungi diri dari dosa/larangan allah. bisa juga diartikan berhati hati dalam menjalani hidup sesuai petunjuk allah.


Pada postingan kali ini, saya akan mencoba menyampaikan beberapa ciri orang yang bertakwa berdasarkan surah al-Baqarah ayat 2 sampai 5. Tidak ada tujuan lain dari tulisan ini selain semoga kita bisa mencapai derajat taqwa dengan memahami dan mengamalkan ciri-cirinya.
Ayat ke-2 surah al-Baqarah menunjukkan peran Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
ذلك الكتب لا ريب فيه ، هدى للمتقين
Al-Kitab yang dimaksud adalah Al-Qur’an (silakan lihat tafsir Ibnu Katsir dan al-Baghawi. Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim diriwayatkan bahwa al-Hasan dan Ibnu ‘Abbas juga menafsirkan al-Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Al-Qur’an).
Laa rayba fiih artinya tidak ada keraguan sedikitpun padanya bahwa Al-Qur’an ini berasal dari sisi Allah dan Al-Qur’an ini adalah haqq dan benar (lihat tafsir al-Baghawi). Pengertian ini sudah disepakati oleh para mufassir, baik dari kalangan shahabat maupun tabi’in (lihat tafsir Ibnu Katsir dan tafsir Ibnu Abi Hatim). Dari sini bisa kita pahami bahwa Al-Qur’an benar-benar berasal dari Allah, Tuhan pencipta alam semesta termasuk manusia. .
Dari ayat ini kita juga bisa pahami bahwa isi Al-Qur’an adalah haq, semuanya merupakan kebenaran, walaupun maknanya ada yang qath’i (jelas dan hanya menunjuk satu makna) ada yang zhanni (perlu usaha yang keras untuk memahami maknanya, disinilah peran mufassir). Ayat ini sangat cukup sebagai hujjah untuk menunjukkan hukum Al-Qur’an adalah hukum yang terbaik bagi manusia. Mengapa? Pertama, karena Al-Qur’an merupakan kalamullah, firman Allah, Tuhan pencipta manusia yang tahu tetek bengek tentang manusia melebihi pengetahuan manusia sendiri. Kedua, karena semua isi Al-Qur’an adalah kebenaran, artinya semua yang bertentangan dengan Al-Qur’an adalah salah, dan hukum buatan manusia sekarang secara mendasar bertentangan dengan Al-Qur’an.
Hudan(l) lil muttaqin, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Petunjuk apa? Petunjuk dari kesesatan, demikian menurut asy-Sya’bi (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim). Artinya, Al-Qur’an adalah kompas agar setiap orang tidak terjatuh pada kesesatan. Ada juga yang mengartikan hudan sebagai nur (cahaya) tibyan (penjelasan). Ibnu Katsir menyatakan semua tafsir ini benar. Dalam ayat ini Allah mengkhususkan hudan hanya bagi orang-orang yang bertakwa sebagai penghormatan dan pemuliaan bagi mereka serta penjelasan atas keutamaan mereka, demikian menurut Abu Rauq dalam tafsir al-Qurthubi. Menurut Hasan al-Bashri, definisi muttaqin adalah orang-orang yang menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah atas mereka dan menjalankan semua yang diwajibkan atas mereka (lihat tafsir Ibnu Katsir).
Disini perlu saya tambahkan, walaupun dari ayat ini dipahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa saja, namun berdasarkan ayat-ayat lain (misal surah al-Baqarah ayat 185), jelas Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh manusia, tentu bagi yang mau menerima petunjuk tersebut.
Baik, sekarang kita masuk ke ayat ke-3 yang menunjukkan ciri-ciri orang yang bertaqwa.
الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلوة ومما رزقنهم ينفقون
Ciri pertama, yu’minuuna bil ghaib, beriman terhadap yang ghaib. Menurut Ibnu ‘Abbas, yu’minuun artinya yushdiquun (membenarkan). Abu al-‘Aliyah menjelaskan makna yu’minuuna bil ghaib artinya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, surga-Nya, Neraka-Nya dan pertemuan dengan-Nya, serta beriman dengan kehidupan setelah kematian dan Hari Kebangkitan. ‘Atha menyatakan barangsiapa beriman kepada Allah maka sesungguhnya dia telah beriman kepada yang ghaib. Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa bil ghaib maknanya terhadap apa saja yang datang dari Allah. Zaid ibn Aslam menyatakan bil ghaib artinya bil qadr (ketentuan Allah). Menurut Ibnu Katsir, semua yang disebutkan ulama salaf diatas adalah benar, dan makna ghaib mencakup semuanya (lihat tafsir Ibnu Katsir). Dari ciri pertama ini bisa kita pahami bahwa ciri orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang beriman terhadap semua hal ghaib yang diinformasikan oleh Allah ta’ala dalam al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah al-Mutawatirah.
Ciri kedua, yuqiimuunash shalah, mendirikan shalat. Mendirikan shalat menurut Ibnu ‘Abbas maksudnya adalah mendirikan shalat dengan semua fardhunya. Sedangkan menurut Qatadah, mendirikan shalat artinya memelihara waktu-waktunya, wudhu, ruku’ dan sujudnya. Muqatil ibn Hayyan menjelaskan definisi mendirikan shalat adalah menjaga waktu-waktunya, menyempurnakan thaharah, menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, membaca Al-Qur’an didalamnya, serta bertasyahud dan membaca shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim). Dari penjelasan para mufassir diatas, bisa kita simpulkan bahwa yuqiimuunash shalah artinya mendirikan shalat dengan melaksanakan semua rukunnya dan menyempurnakannya dengan semua sunnah sejak thaharah sampai selesai shalat. Inilah ciri ke-2 orang-orang yang bertaqwa.
Ciri ketiga, mimmaa razaqnaahum yunfiquun, menafkahkan sebagian harta yang telah Allah rizkikan kepada mereka. Menurut Ibnu ‘Abbas maksudnya adalah zakat wajib, sedangkan menurut Ibnu Mas’ud maksudnya adalah Nafkah seorang laki-laki pada keluarganya, karena itu adalah afdhalun nafaqah. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dinar yang engkau nafkahkan fi sabiilillah (maksudnya perang di jalan Allah), dinar yang engkau nafkahkan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau shadaqahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, dari semuanya itu yang pahalanya paling besar adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (shahih Muslim: 995). Silakan lihat penjelasan hal ini dalam tafsir al-Qurthubi.
Menurut Qatadah, seperti dikutip oleh al-Baghawi dalam tafsirnya, makna yunfiquun adalah yunfiquuna fii sabiilillah wa thaa’atih. Tafsir Qatadah ini cukup luas dan menunjukkan semua nafkah atas harta yang berorientasi ketaatan kepada Allah ta’ala tercakup dalam ayat ini. Berarti ini juga mencakup tafsir dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud tanpa perlu mempertentangkannya. Inilah pendapat yang saya pegang. Wallahu a’lam bishshawwab.
Mari kita masuk ke ayat ke-4 dari surah al-Baqarah.
والذين يؤمنون بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك وبالأخرة هم يوقنون
Ciri keempat, alladziina yu’minuuna bimaa unzila ilayka wa maa unzila min(g) qablik, beriman terhadap kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada Rasul-rasul sebelum beliau. Apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an, tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Sedangkan kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Qatadah menyebutkan ia adalah Taurat, Zabur dan Injil (lihat Tafsir Ibnu Abi Hatim). Ibnu ‘Abbas berkata tentang maksud dari alladziina yu’minuuna bimaa unzila ilayka wa maa unzila min(g) qablik, adalah membenarkan apa yang datang kepadamu (wahai Muhammad, yaitu Al-Qur’an) berasal dari Allah, dan membenarkan kitab-kitab yang ada pada Rasul-rasul sebelummu, mereka tidak membedakan kitab-kitab tersebut dan tidak mengingkari bahwa semua kitab tersebut datang dari rabb mereka.
Tambahan dari saya, bagi kita umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib membenarkan semua kitab yang diturunkan Allah kepada para Rasul sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik secara umum maupun spesifik pada kitab-kitab yang jelas disebutkan dalam al-Qur’an, seperti Taurat, Zabur dan Injil, namun kita hanya wajib mengikuti syariat yang ada di dalam Al-Qur’an sedangkan syariat pada kitab-kitab sebelum Al-Qur’an tidak berlaku bagi kita.
Ciri kelima, bil aakhirati hum yuuqinuun, yakin dengan adanya akhirat. Menurut Ibnu ‘Abbas, maksud aakhirah adalah ba’ts, qiyaamah, surga, neraka, hisab dan mizan (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim). Makna al-yaqiin adalah al-‘ilmu duuna asy-syakk (pengetahuan tanpa ada keraguan sedikitpun), demikian menurut al-Qurthubi. Dari sini kita bisa pahami, orang yang bertaqwa adalah orang yang yakin 100% akan adanya hari akhir, hari kebangkitan kembali seluruh manusia dan hari perhitungan seluruh amal manusia di dunia, apakah seseorang akan berada di surga ataukah di neraka. Keyakinan ini tentu akan menghasilkan ketaatan kepada seluruh perintah Allah ta’ala.
Inilah 5 ciri orang yang bertaqwa yang disebutkan di awal surah al-Baqarah. Dalam ayat-ayat lain dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga disebutkan ciri-ciri lain dari orang yang bertaqwa, insya Allah, dengan izin Allah, nanti juga akan saya postingkan di blog ini. Semoga kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. Amiin ya rabbal ‘aalamiin.
Sebagai penutup, mari kita simak ayat ke-5 dari surah al-Baqarah.
أولئك على هدى من ربهم وأولئك هم المفلحون
Mereka (orang-orang yang disebutkan dalam al-Baqarah ayat 3 dan 4), tetap berada dalam hudan dari rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. ‘Alaa hudan, artinya nuur, bayaan dan bashiirah dari Allah ta’ala, demikian menurut Ibnu Katsir. Sedangkan menurut al-Baghawi, ‘alaa hudan artinya rusyd, bayan dan bashiirah. Semuanya menunjukkan bahwa mereka berada dalam keutamaan dan selalu mendapatkan petunjuk dari Allah ta’ala. Wa uulaaika humul muflihuun, artinya mereka memperoleh apa yang mereka inginkan dan selamat dari keburukan yang ingin mereka hindari, demikian menurut Ibnu ‘Abbas (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim). Menurut al-Baghawi, maksudnya adalah selamat dan berhasil, berhasil mendapatkan surga dan selamat dari api neraka. Inilah ganjaran bagi orang-orang yang bertaqwa dengan 5 ciri yang telah disebutkan diatas. Semoga kita mendapatkan kedudukan yang mulia ini dengan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Rabu, 02 November 2011

KEAJAIBAN AL-QALB (HATI)


Oleh
Anwar Saepul

Dalam diri manusia terbangun atas dua unsur yaitu unsur jasmaniah dan unsur rohaniah dimana dua unsur ini saling berkaitan, jasmaniah perlu dirawat dan dijaga agar sehat dengan melakukan olahraga, makan makanan yang sehat serta bergizi begitu juga dengan ruhaniah perlu dan bahkan sangat penting dijaga agar sehat dan tidak berpenyakit batiniahg atau penyakit hati, dijaga dengan dzikrullah, ibadah, dan hal hal yang membuat hati kita menjadi tenang, karena hati adalah pusat semua jasadiah dan ruhaniah kita.

Menurut Imam AlGhazali  kemuliaan martabat manusia disebabkan karena kesepiannya mencapai ma’rifat kepda Allah, dan hal itu dimungkinakan karena adanya hati. Dengan hati, manusia mengetahui CINTA, dan dengan hati pula lah manusia mengetahui Allah dan mendekatinya, sedangkan anggota badan yang lain berfungsi sebagai pengaglikasian dari hati itu sendiri.

Hati dalam bahasa arab disebut QALBU yang artinya “bolak balik” . hati manusia juga berarti bolak balik kadang tenang, susah, gembira, was-was dan risau sehingga Rasul pun dalam do’a nya pun mengisyaratkan :

ياَمُقَلِّبَ الْقُلُوبْ ثَبِّتْ قَلْبِ عَلىَ دِيْنِكَ وَعَلىَ طَاعَطِكَ

Artinya:

“Hai yang membolak-balikan hati, tetapkan lah hati ku dalam agamaMu dan dalam taat padaMu”

Oleh karena sifat hati itu bolak-balik maka ada masanya manusia itu senang, sedih, gundah, ataupun tenang. Hati yang tenang harus dan bisa menyingkirkan nafsu amarah, waswas dan kerisauan. Ia membutuhkan penyucian diri, kedewasaan dan pengisian dengan dzikrullah dan perbuatan-perbuatan amal saleh lainnya. Sebaliknya apabila hati yang tenang tak mampu menyingkirkan nafsu amarah, was-was, dan kerisauan dalam hati maka akah menimbulkan penykit hati baik itu hasud, dengki atau penyakit lainnya, sedangkan jika hati sudah sakit (berpenyakit) tidak hanya ruhaniyah saja yang sakit bahkan jasmaniyah (badan) pun ikut merasakan sakit, itu dikarenakan adanya hati yang sakit, terluka atau berpenyakit sebab hati sebagai pemimpin jasad dan ruhaniyah :

وَقاَلَ النَّبِيً صلعم : اِنَّ فِى الـْجَسَدِ مُضْغَةً اِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ بِهاَ ساَ ءِرِ الْجَسَدِ وَاِذَ فَسَدَتْ فَسَدَتْ ساَءِرِ الْجَسَدِ اَلاَ وَهِيَ الْقُلًبْ

Artinya :
“Sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, dimana jika segumpal daging tersebut bagus (sehat) maka bagus (sehat) lah seluruh jasadnya dan apabila segumpal daging itu rusak (sakit) maka seluruh jasadnya, ingat segumpal daging itu adalah hati”

Jagalah hati kita, karena keimanan kita bersumber dari hati kita yang diucapkan melalui lisan dan diamalkan oleh anggota badan, banyak-banyaklah berdzikir pada Allah karena itulah sumber ketenangan hati “Ala Bidzikrillahi tatmainul qulub” ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Dalam diri manusia terdiri dari dua potensi yaitu potensi fujur dan potensi taqwa yang selalu mengajarkan kita dan mengajak kita kepada kebaikan QS. ASyam.
Keimanan adalah cahaya hati karena itu Imam Syafi’I memaparkan sifat hati.
Beliau berkata “cahaya hati (keimanan) itu pluktuatif, kadang bertambah dan kadang berkurang”  (yazidu wayankusyu).

Untuk mengantisifasi itu semua maka ketika iman kita sedang berada dibawah atau sedang berkurang maka  maka perbanyaklah dzikir pada Allah, sering berkumpul dengan orang soleh, dan dakwahilah diri kita (dakwah nafsiah) supaya senantiasa terjaga iman kita.

Wallahu a’lam bisawab